"Hari gini sekolah saja...mana cukuup...."
Zaman sekarang, anak mengenyam pendidikan di sekolah saja tidaklah cukup. Dan realitanya sebagian besar anak sekolah tidak hanya belajar di sekolah untuk mencapai kompetensinya. Selepas sekolah anak masih harus mengerjakan PR, masih harus les. Harus les? Ya memang benar. Siapa yang mengharuskan? Ada sekolah yang mengharuskan setiap anak les di sekolahnya, setelah selesai jam pelajaran wajib. Kalau tidak sekolah mewajibkan, orang tua yang menuntut anak mendapatkan nilai bagus, mengharuskan anak les. Karena itu tidak heran jika lembaga bimbingan belajar dan les privat laris manis. Tidak semua anak les, tapi hampir sebagian besar les. Tidak percaya, surveilah sendiri.
Saya sampe melongo ketika tau sebagian besar teman-teman TK Aisyah berbondong-bondong mengikuti les tambahan pada gurunya beberapa jam setelah pulang sekolah. Saat saya tanya mata pelajaran apa yang dipelajari saat les, ya sama dengan pelajaran saat di sekolah. Oooo......
Heran? Tentu saja saya heran. Kalau anak sekecil itu sudah les, belajar baca tulis hitung pake les segala, trus kapan kita sebagai orang tua mengambil peran dalam mendidik anak. Kapan kita bisa menghabiskan waktu berdekat-dekatan dengan anak kita, mengajarinya dengan sayang dan sabar, diselingi canda tawa, menghabiskan waktu berkualitas dengan anak. Apakah tidak takut "kehilangan" anak, jika semua hal yang bersangkutan dengan pendidikannya diserahkan pada orang lain atau lembaga. Bukankah dengan melibatkan diri secara langsung pada pendidikan anak dapat membangun kepercayaan anak terhadap orang tua, rasa lebih menghargai, dan rasa lebih menyayangi orang tua. Coba bandingkan dengan jika keterlibatan orang tua hanya dengan menyuruh dan membiayai saja.
Tapi begitulah, ya begitulah fenomena pendidikan saat ini. Sekolah saja memang tidak cukup untuk membuat seorang anak (dg kemampuan rata-rata) kompeten secara akademis. Lalu bagaimana dengan kompetensi lain yang juga sangat diperlukan untuk bekal masa depannya, yaitu life skill dan pengembangan kecerdasan lainnya. Jadi jika kita ingin anak kita bisa mencapai kompetensi pada bidang akademik dan mengembangkan life skill lainnya serta mengembangkan potensi dirinya yang lain, maka kita harus siap untuk menyiapkan dana lebih selain yang digunakan untuk biaya sekolah, yaitu untuk les, kursus yang berkaitan dengan hobi, dana untuk buku-buku wawasan yang tidak diajarkan di sekolah. Dan tentu saja bukan hanya masalah dana, waktu dan tenaga juga harus kita korbankan demi anak kita.
Karena itu, tidak mengherankan jika banyak orang tua prihatin dengan kehidupan masa sekolah anaknya. Bahkan ada seorang bapak yang menceritakan (baca dari milis) bahwa kesibukan puterinya melebihi orang kerja kantoran. Ya iya lah, sudah sekolah, mengerjakan banyak tugas, les ini itu....
Bagaimana dengan anak kita???
Karena itu, tidak mengherankan jika banyak orang tua prihatin dengan kehidupan masa sekolah anaknya. Bahkan ada seorang bapak yang menceritakan (baca dari milis) bahwa kesibukan puterinya melebihi orang kerja kantoran. Ya iya lah, sudah sekolah, mengerjakan banyak tugas, les ini itu....
Bagaimana dengan anak kita???






