"Jangan salahkan anak-anak kita jika nanti kita tua dititipkan ke panti jompo atau di rumah tapi dirawat oleh pengasuh bayaran. Karena ketika mereka kecil juga sudah biasa dititipkan di tempat penitipan anak (day care) dan sekolah-sekolah. Alasannya pun sama, sibuk kerja cari uang atau nggak pede merawatnya"
Seorang guru, kawan saya, memberikan ide quote itu kepada saya. Dia seorang guru di salah satu sekolah elit islam. Dia melihat fenomena banyaknya orang tua yang seolah menyerahkan begitu saja tanggung jawab pendidikan anaknya ke institusi sekolah, dan mau membayar berapa saja untuk itu.
Saya teringat famili saya yang juga mengajar di sekolah islam elit (saya bilang elit karena memang biaya sekolah disitu selangit), yang pernah menceritakan tentang pengalamannya mengajar. Para wali murid memintanya agar mau memberikan les privat kepada anak-anaknya setelah jam pelajaran sekolah (yang padahal sudah full day), membantunya mengerjakan PR yang diberikan para guru di sekolah. Alasannya adalah mereka ingin ketika anak-anaknya pulang sudah tidak dibebani lagi dengan keharusan membantu anak mengerjakan PR, karena anak biasanya sudah capek dan malas, apalagi pelajaran sekarang susah-susah.
Kasihan sekali anak-anak itu. Di balik gemerlap fasilitas dari orang tua dan sekolah yang wah, ada hal yang tidak mereka sadari. Orang tua mereka ingin berlepas tangan dari tanggung jawab mendidiknya dan membantunya mengatasi kesulitan-kesulitan yang dialaminya saat belajar.
Mari kita mengasah kesabaran dan kepekaan kita terhadap anak, hingga anak-anak kita tumbuh bukan saja cerdas akademisnya tetapi juga matang secara emosional. Sehingga ketika kita tua nanti ada anak yang bisa kita harapkan untuk merawat kita sepenuh hati dan memperlakukan kita dengan baik, seperti saat kita memperlakukannya semasa kecil mereka.






