free month

Haaii...it's..

 

Sekolah (Hanya) Tempat Penitipan Anak

Selasa, 14 Februari 2012


"Jangan salahkan anak-anak kita jika nanti kita tua dititipkan ke panti jompo atau di rumah tapi dirawat oleh pengasuh bayaran. Karena ketika mereka kecil juga sudah biasa dititipkan di tempat penitipan anak (day care) dan sekolah-sekolah. Alasannya pun sama, sibuk kerja cari uang atau nggak pede merawatnya"

Seorang guru, kawan saya, memberikan ide quote itu kepada saya. Dia seorang guru di salah satu sekolah elit islam. Dia melihat fenomena banyaknya orang tua yang seolah menyerahkan begitu saja tanggung jawab pendidikan anaknya ke institusi sekolah, dan mau membayar berapa saja untuk itu.

Saya teringat famili saya yang juga mengajar di sekolah islam elit (saya bilang elit karena memang biaya sekolah disitu selangit), yang pernah menceritakan tentang pengalamannya mengajar. Para wali murid memintanya agar mau memberikan les privat kepada anak-anaknya setelah jam pelajaran sekolah (yang padahal sudah full day), membantunya mengerjakan PR yang diberikan para guru di sekolah. Alasannya adalah mereka ingin ketika anak-anaknya pulang sudah tidak dibebani lagi dengan keharusan membantu anak mengerjakan PR, karena anak biasanya sudah capek dan malas, apalagi pelajaran sekarang susah-susah.

Kasihan sekali anak-anak itu. Di balik gemerlap fasilitas dari orang tua dan sekolah yang wah, ada hal yang tidak mereka sadari. Orang tua mereka ingin berlepas tangan dari tanggung jawab mendidiknya dan membantunya mengatasi kesulitan-kesulitan yang dialaminya saat belajar. 

Sebagai orang tua hendaklah kita menyadari, bahwa sekolah hanya sekedar tempat menitipkan anak, bukan menyerahkan sepenuhnya pendidikan anak ke sekolah. Sekolah adalah tempat untuk belajar, namun bukan berarti segala pelajaran yang diperlukan anak untuk hidup mandiri di masa depannya cukup terpenuhi oleh sekolah. Nilai-nilai kehidupan sangat minim porsinya dalam kurikulum sekolah. Bahkan bukan rahasia lagi kalau banyak nilai-nilai keluarga dan religius yang terdistorsi akibat pengaruh pergaulan anak yang berawal dari sekolah. Rumah adalah tempat yang menyenangkan untuk belajar. Ada kehangatan keluarga dan kasih sayang orang tua, di mana orang tua bisa sejak dini mengenalkan dan mengakrabkan nilia-nilai agama dan hidup kepada anak. Tentu saja agar semua itu terasa mudah, antara orang tua dan anak harus ada kedekatan hati dan ikatan.

Jangan biarkan sekolah merampas kedudukan kita sebagai orang tua di mata anak-anak kita sendiri. Cukuplah sekolah sebagai tempat belajar akademis saja, sementara kita mengambil peran besar dalam mendidik dan mengajarkan tentang keterampilan hidup (life skill) dan nilai-nilai kehidupan kepada anak-anak kita. Mari kita jadikan rumah-rumah kita sebagi tempat belajar yang menyenangkan bagi anak kita, dengan kita sebagai gurunya, yang membantu dan membimbingnya dengan cinta dan sabar. Mari kita membangkitkan awareness bahwa tanggung jawab mendidik ada di tangan kita, orang tuanya.

Mari kita mengasah kesabaran dan kepekaan kita terhadap anak, hingga anak-anak kita tumbuh bukan saja cerdas akademisnya tetapi juga matang secara emosional. Sehingga ketika kita tua nanti ada anak yang bisa kita harapkan untuk merawat kita sepenuh hati dan memperlakukan kita dengan baik, seperti saat kita memperlakukannya semasa kecil mereka.



Temukan Inspirasi Yg Anda Suka:

Subscribe via email

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner