free month

Haaii...it's..

 

Sekolah Untuk Aisyah

Jumat, 10 Mei 2013

SMP 2

SD Islam Nurussunnah Semarang. Itu nama sekolah Aisyah kini. Saya mencarinya dari browsing di internet, dan dengan bantuan informasi beberapa kawan baru di facebook, akhirnya mantap bahwa inilah sekolah yang kami cari selama ini. Dengan banyak do'a yang kami panjatkan, Allah memudahkan semuanya.



Bangunan 3 lantai, terintegrasi sekolah (mulai KB-SMP), masjid, pesantren, dan radio dakwah. Gambar bangunan di atas sepertinya baru maket rencana pengembangan pembangunannya. Bangunan aslinya bisa dibilang porak-poranda karena masih dalam pembangunan di beberapa bagian, jadi banyak material bangunan dan aktivitas pekerjaan di sana. Tak apalah secara fisik bangunannya masih belum sempurna, InsyaAllah ke depannya akan lebih baik.

Mengingat kami pindahan yang bukan dari sekolah formal, saya sudah mempersiapkan diri jika nanti saat wawancara akan banyak pertanyaan mengenai latar belakang pendidikan anak kami sebelumnya yang homeschooling. Saya cukup nervous juga, soalnya sebelumnya ditakut-takuti bahwa akan sulit memasukkan anak yang sebelumnya HS, karena tidak ada rekam data hasil belajarnya. Ternyata, alhamdulillah kami bertemu dengan Bapak Kepala Sekolah dan salah seorang Ustadzahnya, baiik banget, ramah, care, sabar. Tidak ada pertanyaan sama sekali tentang HS, padahal sejujurnya pingin deh ditanya dikit-dikit gitu. Aisyah langsung diajak ustazah tes, mengerjakan beberapa soal ulangan semester, tes baca tulis dan baca qur'an. Kami duduk-duduk di ruang Kepsek sambil menerima penjelasan dan tanya jawab tentang sekolah. Tes berlangsung cukup lama, dan rupanya Bapak Kepsek melihat proses tes, beliau mengabarkan bahwa Aisyah ternyata sudah cukup lancar mengerjakannya. 

Singkat cerita, syukur alhamdulillah semua berjalan lancar. Aisyah diterima, langsung urus administrasi pendaftaran dan bawa seragam pulang.

Hari belajar di sekolah Senin-Jum'at, jam 7 sampe ba'da dzuhur. Wah asyik berarti week end 2 hari, meski itu cuma berlaku untuk kelas 1 dan 2, tapi tak apa, itu berarti kita masih cukup punya banyak waktu untuk bersenang-senang belajar bersama di rumah, seperti maunya Aisyah, dia maunya sekolah iya, homeschool juga iya.

Yang saya suka dari sekolah ini, anak-anak kelas satu shalat dzuhur di sekolah tapi yang perempuan ga pake mukena. Tujuannya sebagai latihan, untuk melihat gerakan shalat anak-anak dan memperbaikinya jika ada kesalahan. Dan setiap pagi setelah acara apel pagi dan bersalam-salaman dengan guru, anak-anak membaca qur'an (kalo klas 1 masih baca tartili/iqro'), dilanjutkan hafalan qur'an. Pada kegiatan ini melibatkan kakak-kakak yang sudah SMP, untuk membimbing adek-adeknya belajar baca qur'an dan hafalan. Seneng ngliatnya, yang besar belajar mengajar, belajar sabar dan ngemong ke adek-adeknya. Ada pemberdayaan keterampilan mengajar di sini. Di satu sisi para ustadzah terbantu dengan kehadiran anak-anak yang ikut mengajari, di sisi lain anak-anak SMP belajar mengamalkan ilmunya dengan mengajari adek kelasnya. Dalam teori pendidikan yang pernah saya pelajari, ini namanya tutorial sebaya, yaah meski ga sebaya-sebaya amat.

Di sekolah ini tak ada kegiatan bertabur musik dan hiruk pikuk lagu-laguan, jadi bener-bener menjaga komitmen syari'at islam. Saat pelajaran menggambar pun, untuk gambar makhluk hidup dilarang pake mata dan mulut. Jadi tentram deh hati ini. Meski terlihat ketat dalam hal syar'i, untuk urusan tata tertib pakaian siswa tidak terlalu ketat. Misalnya peraturan tertulis untuk sepatu harus hitam tapi prakteknya warna-warni sepatu bertebaran. Wah suka banget. Kali aja someday ga perlu pake seragam sekolah sekalian, pasti tambah asik, kayak di negara luar, bisa ngrasain heterogenitas, dan lebih natural and kontekstual.

Aisyah senang bersekolah di sini. Karena sekolah jaraknya sangat jauh dari rumah, pulangnya Aisy ikut mobil antar-jemput, lumayan nambah pengalaman. Pengalaman serunya saat pertama kali ikut mobil, baju Aisy basah kuyup oleh muntah. Lucunya dia ga nangis tapi malah cengingisan. Ketakutan kami terbukti juga. Wong sudah tau biasa mabok perjalanan kok ngotot naik mobil, mana jalannya naik turun lagi. Tapi dia seneng katanya, besok-besoknya sudah ga muntah lagi, alhamdulillah.

Pesan Ummi untuk Aisyah, baik-baik belajar di sekolah. Dengarkan setiap nasehat ustadzah, kerjakan tugas dengan baik. Karena Ummi ga mau ngulang-ngulang lagi pelajaran sekolah di rumah. Karena di rumah waktunya homescholing seperti maunya Aisyah. Ya meski cuma HS-HSan, tapi di rumah adalah saat belajar bebas merdeka, berkreasi, menggambar, mewarnai, bikin-bikin, browsing-browsing, ngegame edukatif, maen sesuka hati. Jadi jangan biarkan pelajaran sekolah yang udah nyita banyak waktu menyita lagi waktu kebersamaan kita di rumah ya sayang. Yah kecuali mo ulangan, kecuali ada PR. Ya cuma 2 perkecualian itu aja, ga ada yang laen. Harus ditarik batas tegas antara rumah dan sekolah, masing-masing ada waktunya, masing-masing ada porsinya. Deal Dear?

Temukan Inspirasi Yg Anda Suka:

Subscribe via email

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner