free month

Haaii...it's..

 

Ginjalku

Sabtu, 04 Mei 2013

"Aduh, ginjalku sakiiiit..." jerit Faris (4,5yrs) sambil memegangi perutnya-entah sisi kanan atau kiri-saat peluru karet mengenai perutnya. Kemudian dia tertawa-tawa melanjutkan permainan tembak serunya bersama kakaknya.  Kami sudah terbiasa dengan keluhan soal ginjal sakit itu. Sebenarnya bukan keluhan, hanya sebuah laporan. Dan memang bukan untuk ditanggapi serius.

Lain waktu dia akan berkata:
"Ummi pipisku warnanya putih (bening maksudnya), berarti ginjalku masih bagus?"
atau...


"Aduuh ginjalku sakit (meringis memegang perut bagian kanan), padahal pipisku masih putih...."
atau...
"kakak hati-hati dong kena ginjalku nih..." itu saat main pukul-tendang bareng kakaknya....
atau...
"ya itu loh ginjalnya masih belum sembuh betul..." ucapnya dg muka ditekuk, terpekur sedih (beneran loh), saat ditanya bagaimana keadaan YangTinya, apa sudah sembuh....
dan...masih banyak momen lainnya....menyangkut ginjal....

Segala tentang ginjal dalam kosa kata baru Faris berawal saat Eyang Putrinya menjalani operasi batu ginjal. Kami menengoknya, dan bersama-sama ditunjuki beberapa batu kecil yang diambil dari ginjal Eyangnya. dari situ pertanyaan-pertanyaan muncul dari si kecil. Dan kami memberi penjelasan yang menurut kami dapat dicerna pemahamannya. 

Berbekal buku TUBUHMU YANG HEBAT dari Erlangga Kids bab Organ-Organ Tubuh, kami menjelaskan kalau ginjal itu adalah bagian tubuh yang sangat kecil, berbentuk seperti kacang tanah, berfungsi menyaring pipis (belakangan saya berpikir kalau penjelasan yang terakhir ini kurang tepat, tapi itu mudah dipahami untuk saat ini). Kalau ginjal sakit, bisa pipis mengeluarkan darah dan rasanya sakiit sekali. Kenapa ginjal bisa sakit?? Ginjal bisa sakit karena makanan yang kita makan tidak baik, seperti contoh suka makan mie instan atau jajan chiki2an yang mengandung MSG. Kebetulan anak-anak pernah melihat berita ada seorang anak perempuan 8th yang ginjalnya rusak, dan kemudian diketahui kalau ternyata setiap hari anak itu makan mie instan. Jadi ini momen berharga menjelaskan tentang anggota tubuh kita yang sangat penting dengan mengaitkan apa yang sudah diketahui anak sebelumnya melalui berita. Dan ini juga merupakan momentum yang sangat tepat untuk lagi dan lagi mengingatkan anak tentang bahaya MSG dan junk food alias makanan sampah, enak di lidah tapi menyakitkan tubuh. Orang tua memang dituntut cerewet dan pantang menyerah soal kampanye anti junk food ini, juga harus pintar menangkap momen yang pas untuk menyampaikannya.

Kemudian kami teringat seorang anak laki-laki 9th yang dirawat bersama anak-anak kami di RS (ya mereka pernah kompak opname bersama karena ISPA n FUO), anak itu juga sakit ginjal. Semula diduga infeksi saluran kencing biasa tapi ternyata ada masalah dengan ginjalnya. Penyebabnya diduga karena terlalu sering menahan pipis di sekolah. Kabarnya ada gurunya yang melarang anak itu sering ke belakang dan menyuruh menunggu hingga pelajaran selesai, itu yang saya dapat dari orang tuanya. Kisah ini juga menjadi bahan berharga untuk pembelajaran tentang ginjal, terutama karena anak-anak melihat dan mendengar dan berhadapan langsung dengan si sakit dan keluarganya. Ini juga menjadi pengingat agar anak-anak tidak melanjutkan hobi menahan buang air kecil seperti yang sering mereka lakukan.


***

Menangkap momen, itulah yang harus sering-sering saya ingatkan kepada diri sendiri. Setiap momen bisa menjadi sangat berharga dan bernilai edukatif jika kita bisa jeli. Kejadian sehari-hari akan menjadi bahan pelajaran penting untuk hidup anak-anak. dan kita sebagai orang tua tidak saja harus bisa menangkap momen itu tetapi juga harus bisa mengemasnya menjadi sajian pelajaran yang menarik dan tak terlupakan. Yak, menyelami dunia homeschool/home-education selalu menyenangkan dan penuh tantangan. We like it!






Temukan Inspirasi Yg Anda Suka:

Subscribe via email

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner