free month

Haaii...it's..

 

Hati-Hati "Jebakan" Prestasi Akademik

Selasa, 26 Maret 2013


Hari penerimaan raport pertama putri kami. Saat diberitahu bahwa putri kami berada pada peringkat pertama kelasnya, perasaan saya tidak menentu. Alhamdulillah, senang tentunya...namun mengapa justru yang dominan adalah rasa khawatir.....Seperti de javu, kembali ke masa sekolah dulu....
Menjadi anak berprestasi yang di jaman dulu bergelimang pujian ternyata tidak selalu enak dirasa. Seperti ada keharusan untuk mempertahankan dan bahkan meningkatkan prestasi. Bukankah itu wajar? Memang.
Tapi yang kurang disadari orang tua dulu adalah menganggap bahwa sekolah adalah nomer satu, sehingga ketika kita sebagai anak-anak ingin beranjak sedikit saja mengeksplore diri dengan sesuatu yang tidak berhubungan dengan pelajaran sekolah, maka itu dianggap tidak baik, akan dibatasi atau bahkan dilarang. Nah itu bagian tidak menyenangkannya. Waktu bermain bekurang banyak, membaca majalah atau buku-buku dari perpustakaan juga harus secukupnya saja, kegiatan ekstra seperlunya. Padahal bermain, membaca, kegiatan organisasi juga merupakan proses belajar.

Akankah anak saya nanti seperti itu, pikiran dan waktunya didominasi pelajaran sekolah saja, demi mempertahankan nilai bagus? Ataukah kami akan menjadi orang tua yang juga merasa takut kalau prestasi belajar anak kami menurun, dan mengabaikan aspek belajar lainnya di luar pelajaran sekolah? Padahal saat ini saya meyakini dan merasakan sendiri bahwa hal-hal di luar sekolah, dalam kehidupan nyata, dari akses ke dunia cyber lebih menarik dan menantang untuk dijelajahi. Akankah saya berubah? Pikiran-pikiran itu benar-benar mengganggu saya.


Masih dalam suasana pikiran yang kacau, di luar kelas saya dapati beberapa ibu wali murid berkumpul membicarakan nilai raport anaknya. Saya bergabung dan mereka membanding-bandingkan. Ada ibu yang raut mukanya cemberut dan terlihat kecewa karena anaknya tidak masuk ranking. Saya lihat nilainya, Subhaanallah ternyata nilainya bagus-bagus, 80, 90, 100. Lalu apa yang mengganggunya? Ternyata karena tidak masuk ranking (mungkin maksudnya 3 besar kelas). Huhh, ternyata masih ada juga yang merisaukan masalah ranking. Tidak bisa kah melihat sesuatu di balik itu? Bukankah nilai anaknya sudah bagus, di atas rata-rata kelas, artinya belajarnya sudah berhasil. Kalau tidak masuk ranking, itu berarti pencapaian di kelasnya bagus, artinya gurunya bagus, artinya lagi anaknya berada di tangan yang tepat.


Saya tidak mengerti apa sebenarnya fungsi ranking??! Bukankah anak-anak belajar bersama, mereka tidak sedang melakukan semacam pertandingan yang pasti akan ditetapkan siapa juaranya. Dari pengalaman dan pengamatan saya selama bersekolah, ranking kelas hanya menjadi rebutan beberapa siswa saja, ya sisiwa-siswa pintar di kelas itu. Katakanlah sekitar 10 anak yang selalu berlomba menduduki peringkat atas, dan sisanya siswa lain yang kurang pandai secara akademik tak pernah menyentuh sepuluh besar. Nah siswa-siswa yang tidak beruntung ini akhirnya merasa kurang berharga, kepercayaan dirinya rendah karena merasa tidak cukup pintar, dan biasanya juga kurang mendapat perhatian, bahkan di beberapa sekolah yang kualitas gurunya masih rendah, siswa kurang pintar sering menjadi sasaran olokan guru di depan teman-temannya.


Kalau menurut saya ranking itu tidak perlu, mengingat efeknya terhadap siswa lain yang berada di tangga ranking bawah. Para guru sebaiknya memotivasi anak untuk selalu lebih baik dari prestasinya sebelumnya. Itu cukup untuk meningkatkan daya juang anak. Tak apa menunjukkan siapa nilai tertinggi untuk tiap mata pelajaran, sehingga masing-masing anak berpeluang untuk unggul di bidang yang dikuasainya. Jadi akan diketahui siapa yang pintar matematika, siapa yang pintar di Qur'an, siapa yang pintar menggambar, siapa yang pintar di bidang olahraga, dll. Guru mengarahkan untuk mencintai semua pelajaran, dan masing-masing anak bisa berprestasi di bidang yang dikuasainya. Kalau kesulitan menguasai suatu bidang, bisa belajar pada temannya yang menguasai bidang pelajaran tersebut. Di sini mencerminkan bahwa setiap anak itu berharga, mereka bisa berprestasi, dan yang penting mereka bisa membantu temannya yang membutuhkan bantuannya untuk hal yang dikuasainya itu. Dengan demikian diharapkan tak ada lagi anak minder karena secara ranking tidak masuk sepuluh besar, padahal dia jago menggambar, karena kita hanya berfokus pada kelebihannya itu, sementara untuk memperbaiki kekurangannya tidak perlu membuatnya merasa rendah diri dahulu.

Menyeberang dari dunia homeschooling (yang tidak mengenal ranking) ke dunia school (yang menganggap ranking penting) memang membutuhkan penyesuaian diri bagi kami. Anak saya sendiri tidak tahu apa-apa tentang ranking. Saat dia tahu mendapat ranking 1 dari orang tua temannya yang lebih dulu memberi tahunya, dengan lugunya dia bertanya pada saya: "Ummi, ranking satu tu baik apa ndak?" Lalu saat saya tanya bagaimana perasaannya, dia menjawab "...malah malu". Duh culunnya anakku.....

Di rumah saya dan suami membicarakan hasil raport anak kami dan membahas tentang kekhawatiran atau lebih tepatnya ketidakenakan hati saya. Dan hari itu kami membuat kesepakatan tidak akan membuat target tentang ranking anak kami, tidak akan mendorongnya untuk mencapai ranking tertentu. Kami hanya akan mendorongnya dan membantunya terus untuk belajar sebagaimana biasanya dia belajar, menanamkan kecintaan terhadap ilmu dan aktivitas mengeksplore diri. Motivasi dari dalam diri harus lebih dulu kuat tertanam sebelum mendorongnya dengan motivasi eksternal seperti mengejar ranking. Biarlah motivasi eksternal itu akan dia kenal sendiri seiring berjalannya waktu. Berprestasi itu bagus, namun kami tidak ingin memaksakannya. Bagi kami melihat caranya belajar sehari-hari sudah sangat membahagiakan. Meskipun suatu saat dia tidak masuk ranking, dia tetaplah pintar di mata kami. Kami tidak ingin terjebak dengan stigma prestasi akademik "harus ranking", yang kemudian membuat kami memaksa anak-anak belajar pelajaran dan menghalanginya mempelajari hal-hal lain yang dia suka (trauma mood on)


Dalam pendidikan anak, sisi akademik bukanlah prioritas kami satu-satunya. Masih ada aspek lain yang lebih penting yang juga harus diperjuangkan, pendidikan diin dan syari'ah, skill, pendidikan karakter, social skill, dan lain-lain. Mudah-mudahan Allah SWT memudahkan kami membimbing anak-anak kami menuju jalan yang diridloiNya.

Temukan Inspirasi Yg Anda Suka:

Subscribe via email

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner