Ini kisah beberapa waktu lalu, saat harus menerima kenyataan bahwa program homeschooling kami akan diakhiri dan akan menggantinya dengan sekolah.
Kami sepakat untuk HS bagi Aisyah. Jadi setelah TK kami tidak mendaftarkannya ke SD tapi berkomitmen memilih pendidikan yang terkostumisasi melalui HS. Ya tentu saja kami paham dengan konsekuensi dari itu semua. Tapi ternyata tidak mudah. Hal yang paling berat adalah tantangan dari orang tua dan keluarga yang tidak menyetujui HS. Awalnya tidak menjadi masalah, toh itu keputusan kami bersama, kami yang menjalani, dan kami tidak ambil pusing dengan segala keberatan yang meraka ajukan. Kami memberikan penjelasan, tapi kemudian kami sadar bahwa bagaimanapun kami menjelaskan tak akan merubah pandangan mereka. Akhirnya kami menganggap itu sebagai suatu kewajaran, yah orang berbeda pemikiran itu hal biasa. Orang tidak suka HS itu sudah biasa, seperti juga orang yang tidak suka sekolah, itu juga hal biasa. Tidak perlu saling menyalahkan...semua itu adalah pilihan....
Tapi rupanya hal itu tidak selesai begitu saja seperti yang saya pikirkan, membiarkan kami dengan jalan kami. Orang tua yang menganggap kami salah jalan terus-menerus mendesak untuk menyekolahkan Aisyah. Saya tidak bergeming, tetap teguh dengan HS kami. Dan cara lain yang ditempuh adalah dengan mempengaruhi suami dan Aisyah, dan entah ini termasuk dalam skenario atau tidak, keluarga yang lain gencar ikut mempengaruhi juga.
Saya langsung down, kenapa jadi seperti ini.... Pendidikan anak yang seharusnya menjadi tanggung jawab dan pilihan kami malah menjadi kepentingan banyak orang untuk mencampurinya. Mana rasa menghargai, tenggang rasa, kenapa sekarang semua seakan memantik api percekcokan... Saya sedih, marah, berduka, terluka, dan kecewa....Kalau sudah begini saya tahu pada akhirnya saya akan kalah,,,mengalah.....
Dan begitulah....entah apa alasan sebenarnya saya mengiyakan untuk akan menyekolahkan anak saya. Yang jelas sangat tidak mudah untuk ikhlas, yang terpikir adalah menentramkan hati orang tua, biar mereka tenang, tidak sibuk sana sini mencari cara mempengaruhi kami biar kami berhenti HS. Mungkin juga kasihan pada mereka. Yang jelas hati saya bergejolak, haruskah saya melepaskan impian untuk HS?
HS sudah menjadi impian saya, sejak pertama kali mendengarnya seakan menemukan sesuatu yang sudah lama saya cari. Memang saya bukan anak yang betah di sekolah. Saat istirahat, saat liburan, saat guru tidak hadir, saat ada rapat yang terpaksa pulang pagi, adalah saat-saat yang saya tunggu. Bukan saya tidak suka belajar, saya sangat suka belajar, tapi mengapa belajar di sekolah menjadi saat-saat yang tidak menyenangkan. Ironis. Seperti seorang anak yang hobi berenang, tapi berenang di swimming pool tidak membuatnya merasa berenang, karena dia lebih suka berenang di danau atau laut. Begitu mungkin gambaran tentang diri saya.
Saat waktu demi waktu saya membicarakan keinginan untuk HS kepada suami dan anak, saya selalu bersemangat. Hingga akhirnya mereka menerima. Dan sekarang....saya akhirnya menyerah....bukan karena alasan yang idealis, tapi lebih karena perasaan....ya, menjaga perasaan.....
Membayangkan anak-anak menghabiskan waktunya di sekolah, seharian, bertahun-tahun, sedikit bergaul dan bersosialisasi dengan lingkungan, taunya cuma pelajaran sekolah, tren terbaru dari dunia gaul anak muda, cara eksis di dunia teman, mengerjakan PR, mengerjakan tugas-tugas, mengejar nilai, belajar terstruktur, hanya menerima "menu" belajar, tak terlatih menggunakan inisiatif dan insting curiositynya, minim inovasi, learning skillnya tak berkembang, tak cukup waktu untuk belajar menggali potensinya, tak tau seberapa besar seharusnya sekolah mengambil waktunya, waktu hidupnya, seberapa besar harus dialokasikan untuk urusan kehidupan lain, sekolah selalu menjadi nomer satu, bagaimana dia akan menggunakan otaknya, akan kah dominan untuk menghafal saja, akan kah sekolah zaman sekarang bisa membuatnya kritis dan mahir dalam problem solving.....
Entahlah....saat itu saya hanya bisa mengingat-ingat segala hal yang tidak enak tentang sekolah. Saya tau tidak adil mengatakan kalau sekolah itu jelek, sangat tidak adil. Anggap saja sekolah itu baik, namun itu tidak menjadikan segala sesuatu tentang sekolah baik. Secara subyektif sebagai anak yang pernah merasakan bangku sekolahan, banyak hal-hal tidak mengenakkan di sana. Ini tentang jati diri belajar dan bagaimana menemukannya, kita tidak dibimbing bagaimana sebaiknya kita belajar, kecuali untuk bimbingan mengerjakan soal. Bagaimana cara menggunakan otak agar efektif, efisien dan berorientasi tujuan hidup kita juga tidak. Zaman sekolah saya dulu, BK (Bimbingan Konseling) ada saat di tingkat SMU. Itupun seperti tidak berfungsi, selama setahun cuma beberapa kali ada pelajaran BK. Padahal menurut saya seharusnya BK sangat berperan penting dalam pendidikan anak, yaitu dalam rangka membantu siswa menemukan jati dirinya, tujuan masa depannya, membangun self motivation dan character building. Kok jadi ngomongin BK...
Apakah saya terlalu berlebihan berharap terhadap sekolah? Jika sebagai orang tua saya berharap sekolah bukan saja sebagai tempat latihan mengerjakan soal dan mendapatkan ijazah, tapi lebih dari itu. Mempersiapkan anak dengan intelegensi, bakat dan skill yang diperlukan untuk siap hidup di masa sekarang dan masa depan. Dan maaf, bukan sekedar slogan saja.
Menatap blog ini, sedih. Blog yang sengaja saya bangun untuk lebih intens mempelajari homeschooling dan untuk membangun mindset saya. Dari aktivitas menulis di blog ini saya memperoleh teman-teman yang juga concern dengan HS, seneng rasanya. Ternyata di luar sana banyak yang berminat HS.






