Kalo para homeschooler atau Kak Seto atau Mendiknas mengatakan bahwa homeschooling itu lebih baik, wajar saja.....karena mereka mengerti hakikat pendidikan, mengerti bagaimana seharusnya memberikan pendidikan terhadap anak, mengerti bahwa pendidikan itu bukan melulu soal akademis tetapi pendidikan itu harus bersifat holistik (menyeluruh menyentuh semua sendi kehidupan anak), mengerti bahwa setiap anak unik, mengerti bahwa kebutuhan dan kecepatan setiap anak untuk belajar tidak sama, mengerti bahwa belajar itu adalah hak dan bukan kewajiban, mengerti bahwa belajar itu seharusnya menyenangkan bukan menjadi beban, mengerti bahwa belajar itu bukan saja suatu bentuk aktivitas namun juga suatu skill yang harus terus dikembangkan hingga akhir hayat dan bukan berhenti setelah mendapatkan ijazah. Kalau mereka yang punya pandangan seperti itu merasa tidak cocok dengan sistem belajar di sekolah dan ingin mendidik anaknya dengan cara mereka sendiri dengan memilih homeschooling, ya biarlah....toh mereka mau bertanggung jawab terhadap pilihannya, toh pemerintah tidak melarang, bahkan merestui dan memberikan support.....toh anak-anak mereka lebih bahagia dengan jalan homeschooling.....Jadi untuk apa terus mendebat mereka, mereka tidak menyuruh anak anda untuk mengikuti jejak mereka, mereka tidak menyuruh pemerintah untuk menghapus sekolah dan mengganti dengan model homeschooling....Mereka hanya mencari dukungan atas pilihannya berhomeschooling, agar dibiarkan berkembang dan mendapatkan kemudahan seperti jalur pendidikan formal yang lainnya, bukan dianak tirikan....karena yang mereka perjuangkan adalah kepentingan anak.
Kalo ada pakar pendidikan yang mengatakan bahwa sebaiknya anak itu bersekolah di sekolah dan bukan bersekolah di rumah (homeschooling) dengan berpendapat bahwa dalam pendidikan sekolah bukan saja mengejar target kurikulum akademis saja, akan tetapi ada yang namanya hidden curriculum, seperti sosialisasi yang sebaiknya dipertimbangkan, itu juga sah-sah saja. Jika mempertimbangkan bahwa sosialisasi dengan teman sebaya dengan frekuensi 6-8 jam sehari, dengan teman yang relatif sama setiap harinya selama 6th unt anak SD dan masing-masing 3th untuk anak SMP dan SMA adalah hal yang cukup urgen, lebih urgen daripada tujuan mereka menyekolahkan anak untuk belajar mengenyam pendidikan, tetap memilih sekolah untuk mendidik buah hatinya....tidak ada yang melarang.
Jika ada yang berkata homeschooling itu repot, tidak bisa diterapkan oleh semua orang, apalagi jika kedua orang tua bekerja, lebih baik menyekolahkan anak saja, tidak perlu mendampingi anak belajar setiap saat, tidak perlu pusing menentukan kurikulum, mencari sumber belajar, mengatasi anak yang kemauannya berbeda, melakukan proyek ini itu, menghadapi kesulitan anak saat belajar.....Itu memang benar. Homeschooling hanya bisa dilakukan oleh orang yang memang punya kepentingan, tujuan, tekad, komitmen, dan adaptable terhadap berbagai situasi terkait dengan anak maupun proses pembelajaran, juga orang yang berani menghadapi kontroversi dari berbagai pihak termasuk dari keluarga dekat.
Mari kita pahami bahwa homeschooling itu adalah suatu bentuk pendidikan alternatif. Seperti halnya jalur pendidikan melalui pesantren, sekolah kejuruan, short course, atau magang. Masing-masing orang memiliki pilihan dengan latar belakangnya sendiri. Dan kita tidak perlu saling berbantahan atau berdebat secara tidak sehat tentang mana pilihan pendidikan yang terbaik. Bukankah tiap keluarga berbeda, tiap orang tua berbeda, tiap anak juga berbeda. Jadi sangatlah wajar apabila keinginan juga berbeda.
Apabila marak perbincangan tentang homeschooling yang notabene membanding-bandingkan antara homeschooling dan public school (sekolah umum), itu juga wajar karena pada awalnya munculnya homeschooling juga karena ketidakpuasan terhadap sistem sekolah umum. Dalam setiap opini sebaiknya disebutkan fakta-fakta dan bukan hujatan-hujatan semata.
Dalam dunia pendidikan, antara sekolah umum dan homeschooling akan tetap menjadi kontroversi, mungkin sampai kapan pun, dan antara siapa pun. Yah seperti juga dalam dunia medis barangkali, ada orang yang tetap fanatik dengan pengobatan medis, ada yang lebih cocok dengan pengobatan alternatif ala jawa, china, india, cara islam, atau lebih memilih cara supranatural.....Variasi alternatif pilihan itu akan selalu ada, dalam bidang apa pun. Jadi bijaksanalah, pilihlah mana model pendidikan yang paling tepat dengan kondisi keluarga kita, dan lakukanlah dengan sebaik-baiknya. Berhentilah berdebat dengan tidak sehat, apalagi sampai memancing permusuhan.
Salam Hangat







