free month

Haaii...it's..

 

Sosialisasi Ideal: Artifisial ala School atau Autentik ala Homeschool

Kamis, 05 Januari 2012



Saat memilih homeschooling untuk pendidikan anak, salah satu pertanyaan yang pasti akan ditanyakan adalah tentang bagaimana nanti sosialisasinya. Hal itu wajar saja karena sebagian besar orang berpikir kalau HS itu belajarnya di rumah, cuma sama orang tua dan saudara, wah pasti kuper abis. Padahal homeschooling kan bukan school at home. Homeschooling adalah belajar sealami bernafas, bisa di mana saja kapan saja. Ruang kelasnya di atas bumi di bawah langit, so kesempatan bersosialisasinya sangat luas, tidak terbatasi tembok dan gedung seperti di sekolah.
Sebelum membandingkan manakah sosialisasi yang lebih ideal, di sekolah atau dengan homeschool, mari kita definisikan dulu tentang sosialisasi ideal. Saya sendiri tidak memiliki referensi tentang Sosialisasi Ideal ini. Mari kita mulai dari definisi sosialisasi dulu, kita minta bantuan wikipedia.

Sosialisasi adalah sebuah proses penanaman atau transfer kebiasaan atau nilai dan aturan dari satu generasi ke generasi lainnya dalam sebuah kelompok atau masyarakat. Sejumlah sosiolog menyebut sosialisasi sebagai teori mengenai peranan (role theory). Karena dalam proses sosialisasi diajarkan peran-peran yang harus dijalankan oleh individu.



Tentang sosialisasi ideal, saya lebih suka membandingkannya dengan sosialisasi kita sebagai orang dewasa dalam kehidupan kita sehari-hari. Apa saja yang lazim kita lakukan, yang terkait dengan sosialisasi, mari kita merefleksinya, dengan menjawab beberapa pertanyaan berikut ini.
1. Siapakah yang paling berperan besar dalam kehidupan kita sebagai makhluk sosial? keluarga, tetangga/masyarakat, kerabat, teman/sahabat, atau rekan kerja?
2. Di manakah ekstistensi diri yang paling kita kehendaki, urutkan prioritasnya dari keluarga, masyarakat, kerabat, teman, atau rekan kerja?
3. Di manakah kita merasa paling nyaman berada? di antara keluarga, masyarakat, kerabat, teman, atau di tempat kerja?


Dari pertanyaan-pertanyaan tersebut saya rasa berbeda jawabannya pada masing-masing individu. Namun adakah tuntutan bagaimana yang seharusnya kita bersosialisasi dalam hidup? Jika dikaitkan dengan transfer nilai-nilai sosial dan peranan kita sebagai makhluk sosial sesuai definisi sosialisasi di atas, tentu yang paling berperan adalah keluarga dan masyarakat, mereka lah yang sebenarnya banyak berperan dalam membentuk kita.


Mulai dari sini mari kita bahas dan bandingkan tentang bagaimana pembelajaran sosialisasi yang ideal bagi anak, melalui sekolah atau pendidikan di luar sekolah (homeschool).


Sosialisasi Artifisial Ala Sekolah
Mengapa saya menyebutnya sosialisasi artifisial? Karena sosialisasi yang terjadi antara penghuni sekolah pada beberapa aspeknya dikondisikan (artifisial). Misalnya siswa dikondisikan memakai pakaian yang sama, berkumpul dengan siswa yang seusianya (homogen), dan melakukan aktivitas yang sama, dalam rentang waktu yang sudah terjadwal. Selain itu siswa diharuskan mentaati semua peraturan dan norma sekolah, dan juga mentaati guru. 


Kelebihan sosialisasi di sekolah anak terbiasa bergaul dengan usia sebayanya, merasa nyaman dan senang dalam melakukan aktivitas bersama dalam hal belajar atau pun lainnya. Siswa juga berlatih mengenal berbagai karakter teman sebaya, menghargai sesama teman, memahami perbedaan antar sesama teman. Solidaritas antara teman sebaya bisa kuat.


Kekurangan dalam sosialisasi ini di antaranya, siswa menghabiskan waktu yang panjang untuk bersosialisasi dengan teman sebaya dan biasanya dengan teman yang itu-itu saja, sehingga sosialisasi dengan yang berbeda usia jauh dan orang dewasa kurang. Padahal dalam kehidupan nyata kelak mereka hidup berdampingan dengan berbagai level usia dan latar belakang. Risiko dari sosialisasi model ini adalah munculnya senioritas. Biasanya homeschooler menyebutnya dampak tekanan teman sebaya. Ini telah banyak kita ketahui dari berbagai fenomena siswa yang lebih senior bersikap merendahkan bahkan pada beberapa kasus mendzolimi (bullying). Munculnya geng juga sering kita dengar, atau tawuran antar pelajar adalah salah satu efek sosialisasi seumur yang terlalu intens dan minim bimbingan positif.


 Risiko lain terlalu sering bergaul dengan teman sebaya dan kurangnya variasi bergaul dengan orang dewasa juga bisa mengakibatkan anak jauh dari orang tua dan keluarga, hubungan dengan keluarga berjarak, bahkan sering sangat jauh dan sulit menjembataninya. Mereka lebih suka, lebih enjoy, dan mungkin lebih bahagia berkumpul dengan teman-teman sebayanya daripada berkumpul dengan keluarga. Ini sudah banyak terjadi dan meresahkan keluarga. Bahkan tidak sedikit orang tua yang merasa "kehilangan" anaknya. Anak-anak berangkat sekolah, berkumpul dengan teman, pulang minta uang, enggan berkumpul dengan keluarga dan sulit menerima nasihat orang tua.


Usia sekolah merupakan masa terpanjang pembentukan watak anak dimana kita bersentuhan langsung dengan perilaku anak secara riil dan segenap permasalahannya. Karena itu amat penting kiranya usia sekolah anak mendapat perhatian yang lebih serius. (Syafinuddin Al-Mandari dalam bukunya Rumahku Sekolahku)


Wujud lain dari kurangnya bimbingan orang dewasa dalam kehidupan sosialisasi anak dan efek negatif dari terlalu intensnya pergaulan antar teman sebaya adalah munculnya banyak perilaku menyimpang anak yang bahkan mengarah pada kriminalitas. Kriminalitas dan tindakan amoral anak usia sekolah di zaman ini bukan hal langka lagi. Mulai dari kasus pornografi, pornoaksi, pergaulan bebas, gank, tawuran, narkoba, pencurian, pengrusakan, bahkan pembunuhan sering mewarnai media massa. Bahkan perilaku anak yang lebih ringan dari itu pun sudah banyak yang meresahkan. Misalnya perilaku dan gaya hidup hedonis (suka bersenang-senang tanpa mau susah memikirkan bagaimana memperoleh uang), narsisme (over narsis), tidak menghormati orang tua dan guru, dan lain-lain.


Sosialisasi ala sekolah ini yang "mengurung" siswa selama bertahun-tahun (12th...bayangkan!)  juga membuat anak terjauhkan dari realitas hidup masyarakatnya. Mereka akhirnya terjebak dalam kepalsuan kehidupan dan permainan dunia sekolah. Sehingga saat harus kembali ke keluarga dan masyarakat banyak anak merasa enggan dan canggung karena dunia pergaulan yang dilakoninya selama bersekolah jauh sekali dengan dunia pergaulan yang nyata.


Pola sosialisasi di sekolah yang telah digambarkan di atas hanya memungkinkan transfer nilai, norma dan kebiasaan yang dominan terjadi antar siswa saja. Guru meskipun setiap hari terlibat dalam aktivitas pembelajaran, namun sebenarnya hampir sama sekali tidak terlibat dalam pergaulan dengan siswa. Lalu transfer nilai seperti apa yang bisa diharapkan dari pergaulan dengan usia sebaya yang sebenarnya masih butuh banyak bimbingan orang dewasa. Dan peneguhan peran seperti apa yang terjadi jika lingkungan pergaulan tidak menyediakan cukup variasi seperti yang selayaknya mereka jalani dalam kehidupan nyata? Sangat bisa dimaklumi jika pada umumnya anak-anak usia sekolah begitu sangat ingin eksis dalam dunia pergaulannya, karena memang nilai eksistensi dirinya hanya diukur dari lingkup kecil dunia teman. Biasanya mereka melakukan usaha apa saja agar bisa diterima dan agar tidak dibilang kuper atau katro. Sangat berbeda apabila anak-anak itu diminta untuk meneguhkan perannya sebagai anak yang berbakti atau siswa yang penuh dedikasi menyongsong masa depannya. Kira-kira usaha ekstra apa ya yang bisa dilakukan anak zaman sekarang untuk kedua peran itu? Jangan heran apabila sebagian besar mereka sama sekali tidak memikirkan hal itu, karena memang lingkup lingkungan sosialnya yang notabene anak muda tidak menuntut.


Sebenarnya anak yang bersekolah banyak juga yang tidak mempunyai masalah sosialisasi dengan keluarga dan masyarakat. Tentang sosialisasi ini memang terkait erat dengan peran orang tua masing-masing dalam membelajarkan sosialisasi pada anak-anaknya. Namun banyak juga orang tua yang tidak memberikan pendidikan sosialisasi secara intens kepada anaknya, bahkan beberapa mungkin terpikirkan pun juga tidak. Model orang tua seperti ini biasanya menganggap sekolah anak adalah nomer satu. Anak tidak perlu dilibatkan kegiatan-kegiatan yang akan mengganggu konsentrasi sekolahnya. Jadi untuk acara-acara yang tidak berbau pelajaran tidak perlu mengikutsertakan anak. Misalnya saja acara kerja bakti, menjenguk tetangga sakit, melawat tetangga yang meninggal, atau sekedar mengulurkan bantuan ke tetangga  yang sedang ditimpa musibah. Atau terkadang orang tua yang bersemangat membelajari anak agar bisa membaur dengan masyarakat tetapi anak yang enggan dan banyak alasan ini itu untuk menghindar. Dan semua ini akhirnya dimaklumi saja, tidak dipikirkan dampak jangka panjangnya terhadap kemampuan anak beradaptasi dan bersosialisasi dengan lingkungan sekitarnya.


Sosialisasi Authentik ala Homeschool
Saya menyebut sosialisasi HS autentik karena bersifat alami, apa adanya. Tentu saja dengan catatan HS dilakukan dengan benar, bukan model HS yang tipe school at home. Filosofi HS yang sangat masyhur adalah belajar di mana saja kapan saja dan dengan siapa saja. Semua orang bisa menjadi partner dan sumber belajar. Belajar urusan rumah bersama ibu, belajar memerah sapi pada peternak, belajar pemrograman pada omnya teman yang programmer, belajar membuat soto madura dari penjual soto langganan, belajar menulis dari korespondensi menulis di dunia maya, belajar sastra dari milis di situs internet, belajar memperbaiki komputer dari tukang servis, dll.


Sesederhana itu gambarannya cara homeschooler bersosialisasi. Jangan terlalu sulit membayangkan tentang bagaimana seorang anak menjalin koneksi dengan berbagai tipe orang. Homeschooler yang tidak melihat gejala unsocialized pada anak-anaknya bahkan tidak memikirkan harus "mensosialisasikan" anaknya karena mereka beraktivitas seperti biasanya orang dewasa, dan dalam berbagai aktivitas tersebut tentu saja akan terhubung dengan berbagai jenis orang, berkomunikasi dengan mereka sesuai dengan kebutuhan, dan ya sudah tidak perlu memikirkan apakah hari ini sudah cukup bersosialisasi atau belum....karena anak-anaknya normal, berkomunikasi dan bergaul dengan baik, tidak kuper.

Namun bagi HSer yang punya kekhawatiran anaknya kurang bersosialisasi, biasanya telah mengantisipasi dan mencari alternatif bagaimana anaknya bergaul dengan berbagai macam orang pada berbagai kesempatan. Jadi, justru perkembangan sosialisasi anak HS bisa lebih terpantau dan bahkan menjadi kurikulum dalam HSnya, yang diperhatikan perkembangannya.



Apabila dikaitkan dengan pengertian sosialisasi yang melibatkan aspek transfer nilai dan norma, dalam praktek HS hal ini jelas sangat memungkinkan, karena selama proses belajarnya anak sebagian besar waktunya dalam pengawasan orang tua. orang tua bisa memastikan apakah anaknya telah cukup mendapatkan warisan nilai-nilai positif yang akan diperlukan untuk hidupnya atau belum. Sedangkan apabila dikaitkan dengan adanya pembelajaran peran-peran anak sebagai individu dan bagian dari keluarga dan masyarakat, hal ini juga sangat mungkin karena anak-anak terlibat secara langsung dengan aktivitas bersama keluarga dan lingkungannya.


Lalu bagaimana dengan kesan anak HS itu anak mama yang bisanya cuma bersembunyi di ketiak ibunya, tidak mandiri, dan takut dengan dunia luar karena tidak biasa lepas berpisah dari orang tuanya? Resiko ini bisa saja terjadi. Anak yang dalam pembelajaran homeschoolnya terlalu dibatasi, terlalu banyak diberi bantuan dan terlalu diawasi mungkin akan mengalami yang namanya kurang mandiri dsb. Karenanya orang tua HS harus mewaspadai akan hal ini. Namun ini tentu saja bukan karena konsep HS itu salah tetapi biasanya lebih pada aplikasinya yang kurang tepat. Terbukti telah banyak "alumni" HS yang jauh dari stigma itu, malah yang sering digambarkan homeschooler adalah sosok-sosok mandiri yang siap menghadapi hidup.


Baiklah, cukup sampai di sini ulasan saya, silakan dipikir dan ditimbang-timbang sosialisasi manakah yang lebih ideal: Artifisial ala School atau Autentik ala Homeschool?
Tentunya dua-duanya bisa sama-sama ideal asalkan betul-betul diperhatikan. 








Temukan Inspirasi Yg Anda Suka:

Subscribe via email

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner