1. Mereka berpikir bahwa pendidikan tidak melulu urusan akademis, tapi mencakup semua aspek yang diperlukan oleh seorang anak untuk bisa menjalani kehidupannya di masa sekarang dan terutama untuk membekali kehidupan mereka di masa mendatang.
2. Bagi mereka belajar bisa dilakukan secara alami di mana pun dan kapan pun.
3. Mereka ingin anak-anaknya belajar dengan bebas, penuh inisiatif, tanpa dibebani target kurikulum.
4. Mereka tahu momen paling baik untuk belajar adalah saat keingintahuan anak muncul, bukan ketika bel berbunyi.
5. Mereka tidak suka anaknya disibukkan dengan sekolah dan hanya memiliki sedikit waktu untuk kegiatan lain dalam rangka mengembangkan potensinya
6. Mereka tidak mau partisipasinya dalam pendidikan anaknya berkutat pada urusan menyediakan dana, membantu mengerjakan PR, mempersiapkan ulangan, menanyakan berapa nilainya, mengambil raport. Mereka ingin lebih dari itu, mendampinginya saat mereka ingin tahu, membantunya menemukan jawaban atas segala pertanyaannya itu
7. Mereka ingin menikmati proses belajar anaknya, melihat secara langsung bagaimana mereka mengeksplorasi kemampuannya.
8. Mereka percaya dan sudah membuktikan bahwa setiap anak bisa belajar secara mandiri.
9. Mereka ingin memastikan anaknya tumbuh secara normal, sehat jasmaninya, ruhani, intelektual, dan mentalnya
10. Mereka tidak ingin anaknya terjebak dalam sosialisasi artifisial di sekolah yang beresiko anaknya tercemari kultur pergaulan yang buruk
11. Mereka tidak ingin anaknya terjebak pada paradigma bahwa belajar untuk mendapatkan nilai bagus dan ijazah
12. Mereka mempunyai standar tersendiri tentang kualitas hasil pendidikan anak yang seharusnya, yang jelas beda jauh dari sekedar sejumlah catatan angka di sebuah buku yang namanya raport. IQ, EQ, SQ harus seimbang
13. Mereka tahu dunia yang akan ditempati anaknya kelak berkembang lebih pesat daripada dunia sekolah
14. Mereka tahu setiap anak memiliki potensi yang sangat besar, yang tidak akan cukup dieksplore dan dikembangkan melalui sekolah saja
15. Mereka tahu tempat belajar yang paling autentik dan efektif adalah berbasis keluarga dan masyarakat
16. Bagi mereka anak adalah teramat sangat berharga, pendidikan anak harus diperjuangkan. Banyak di antara mereka yang mengorbankan karirnya yang cemerlang demi mendampingi anaknya belajar dari kehidupan
17. Mereka sangat tidak ingin sepanjang usia belajarnya anak lebih banyak belajar dengan menghafalkan fakta-fakta
18. Mereka ingin anak lebih banyak belajar menggunakan otaknya untuk berlatih berfikir, menganalisa, dan memecahkan masalah (problem solving), karena kemampuan ini sangat berguna pada kehidupan nyata.
19. Mereka ingin mengajarkan lebih banyak lifeskill dan mendidik anaknya memiliki karakter yang positif
20. Mereka ingin anaknya memiliki learning skill, yaitu keterampilan belajar yang mencakup keingintahuan yang besar (curiosity), inisiatif belajar, dan tanggung jawab dalam belajar. Skill ini sangat diperlukan untuk mampu menjadi pembelajar seumur hidup.
Jika Anda merasa alasan-alasan mereka dalam memilih pendidikan untuk anak sesuai dengan apa yang Anda pikirkan dan inginkan, memilih jalur pendidikan alternatif homeschooling adalah sangat tepat. Tentu saja dengan memperhatikan setiap risiko dan konsekuensinya.
Tetapi jika Anda merasa aneh dan tidak cocok dengan alasan-alasan orang tua homeschooler tersebut, maka jangan memilih homeschooling untuk anak Anda. Sekolah saya rasa lebih tepat.







