Ya, putra ibu itu ingin homeschooling. Dia baru kelas 2 SD. Memang selama ini kakak pertamanya telah mengikuti homeschooling, dan rupanya dia ingin belajar dengan cara seperti kakaknya juga. Alasan yang dikemukakannya antara lain adalah karena tidak cocok dengan beberapa hal di sekolah, seperti misalnya kenapa kita harus hormat bendera saat upacara, kenapa banyak teman perempuannya yang tingkahnya tidak sopan, dan hal-hal lain yang setelah disimpulkan berkaitan erat dengan nilai-nilai yang dijarkan di sekolah banyak berbeda dengan yang telah diajarkan keluarganya sejak dia kecil. Dan hal itulah yang membuatnya mengambil keputusan berani untuk lebih memilih "nilai-nilai rumah" daripada "nilai-nilai di sekolah".
Sang ibu mengungkapkan kekagumannya pada keputusan anaknya itu, dan beliau mengambil hikmah yang sangat besar dari momen ini. Sungguh anak-anak yang dididik dengan nilai-nilai tauhid dan syariah sejak dini akan bisa berpengaruh kuat terhadap perkembangan aqidah dan akhlaknya di kemudian hari. Mereka mampu memfilter sendiri nilai-nilai yang tidak sesuai dengan syariah, dan akan lebih adaptable dengan nilai-nilai diin yang akan dipelajarinya nanti, meskipun itu tidak mudah untuk melaksanakannya.
Kesedihan besar yang dirasa ibu itu adalah ketidaktegaannya melihat anaknya jauh dari teman-temannya. Kalau homeschooling berarti dia tidak bisa bermain setiap hari dengan mereka. Tidak bisa bercanda dan tertawa-tawa bebas. Sang putra hanya akan lebih banyak di rumah bersama keluarganya.
Meskipun sejak beberapa tahun lalu keluarganya memilih homeschooling untuk anak pertamanya (resign dari sekolah kelas 4 SD), namun keluarga ini masih memberi kesempatan anak-anak mereka untuk bersekolah, tujuannya untuk pembelajaran sosialisasi.
Ibu ini pun meski memandang homeschooling adalah model pendidikan terbaik, tapi sebenarnya beliau dulu sangat senang sekolah. Sekolah membuatnya semangat belajar. Tapi kini pandangannya terhadap sekolah berbeda. Beliau adalah seorang sarjana pendidikan yang mengerti benar bagaimana pendidikan itu seharusnya. Memang ada sisi dilematis antara kesenangan belajar bersama di sekolah dan tentang hakikat belajar dan kefektifan belajar. Namun untuk memperjuangkan sebuah idealisme dan kepentingan anak secara lebih luas, akhirnya harus memilih. Dan dengan bismillah dia dan keluarganya akhirnya mendukung keputusan si anak. Good luck, semoga Allah SWT memudahkan perjuangan kalian.....






