Izza Ahsin Sidqi, seorang pelajar SMP kelas 3 dari kabupaten Salatiga membuat heboh dunia pendidikan Indonesia. Keputusannya untuk mengundurkan diri dari sekolah terfavorit di kotanya 3 bulan sebelum ujian akhir menuai banyak kontroversi. Ada apa gerangan? Kedua orang tuanya pendidik yang sukses. Ibunya guru TK yang pernah menjadi guru teladan tingkat nasional dan pernah mendapatkan penghargaan dari presiden. Ayahnya seorang guru SMU senior yang kompeten dan tokoh masyarakat yang disegani. Sementara itu anaknya drop out, apa kata dunia???
Sebenarnya semua berawal dari "pengaruh" dari kedua orang tuanya. Pengaruh secara tidak langsung. Kedua orang tuanya sangat memperhatikan pendidikan anak, mereka memfasilitasi anak-anak dengan perpustakaan keluarga dengan koleksi buku yang up to date. Belanja buku adalah keharusan. Dan sejak kecil anak-anak telah terbiasa membaca, termasuk Izza. Dalam perkembangannya Izza membaca buku apa saja. Yang awalnya hanya suka buku cerita dan sastra akhirnya tertarik membaca buku dari berbagai bidang ilmu, termasuk membaca buku-buku pendidikan koleksi ayah ibunya.
Ayah ibunya memiliki buku-buku pendidikan populer yang sangat bermutu bahkan yang termasuk jajaran best seller dan most wanted. Seperti misalnya buku Quantum Teaching dan Quantum Learning. Mereka tidak saja membaca tetapi sebagai guru yang profesional juga berusaha mempraktekkannya dalam kegiatan mengajarnya, meskipun tentu saja tidak mudah untuk iklim pendidikan kita yang kurang kondusif untuk menerapkan teori-teori yang ada di buku tersebut. Mereka juga berusaha menularkannya kepada guru-guru lain misalnya dengan membuat makalah untuk seminar.
Dari sinilah Izza mulai tertular dengan pola pikir orang tuanya tentang pendidikan. Tentang bagaimana pendidikan itu seharusnya ditempuh. Dia berpandangan bahwa pendidikan itu untuk mempersiapkan seorang anak menghadapi masa depannya, yang tentu saja masa depan itu tidak bisa ditentukan dengan nilai selembar ijazah. Dan pendidikan yang seharusnya adalah yang berpihak pada anak, dengan memperhatikan pada bakat dan potensi anak, yang kemudian proses belajarnya berfokus pada pengembangan bakat dan minatnya tersebut. Yak pandangan dan cara berpikir yang cerdas untuk anak usia SMP.
Izza memiliki hobi menulis. Dia telah menulis banyak hal sejak masih SD, mulai dari cerpen hingga naskah drama. Dan kini saat SMP dia sudah punya proyek sebuah novel yang sedang serius digarapnya. Kepiawaian menulisnya sudah diakui banyak orang, bahkan seorang kawan ayahnya menilai tulisan Izza sudah selevel seorang doktor. Dia tahu bakat dan potensinya ada pada menulis, orang tuanya pun setuju. Dan Izza ingin mulai sekarang berfokus pada apa yang ingin dicapainya saja, tidak ingin terganggu oleh hal lain, termasuk sekolah.....
Akhirnya dengan keyakinan kuat kedua orang tuanya bakal mendukung, Izza menyampaikan keinginannya itu. Namun apa yang terjadi sangat jauh dari perkiraannya. Tanggapan ayah ibunya sungguh sangat berbeda dari yang diharapkannya. Keduanya murka, bukan sekedar marah. Dan mulai detik itu perang argumen di keluarga itu menjadi hal yang sangat lumrah. Bukan saja perdebatan yang terjadi tetapi lebih dahsyat lagi, ayahnya sering mengamuk karena masalah ini. Suara piring pecah yang membuat adik-adik Izza takut sering sekali terdengar. Rumah seperti neraka.
Izza sangat heran, bagaimana bisa orang tuanya menjadi seperti itu. Sungguh sangat berbeda sekali dengan citra mereka di mata Izza, sebagai orang tua yang baik dan pendidik yang mengerti. Ini yang terjadi malah seperti bumi dan langit. Izza stress, depresi, dan tentu saja berimbas terhadap sekolahnya. Nilainya drop, dia mengalami school syndrom, yang akhirnya juga berpengaruf pada kesehatan psikhis dan fisik Izza.
Orang tuanya semakin prihatin melihat Izza. Akhirnya setelah 8 bulan keluarga mereka diliputi kemelut, amarah, pertengkaran dan perang dingin orang tua-anak hampir setiap hari, kedua orang tua Izza menerima keputusan Izza untuk resign dari sekolah. Bagi mereka sendiri ini merupakan keputusan yang sangat-sangat berat. Keinginan Izza untuk belajar sendiri secara otodidak atau yang biasa disebut homeshooling menguji kredibilitasnya sebagai orang tua dan pendidik sejati. Di satu sisi pikiran Izza relevan dengan jalan pikiran mereka akan pendidikan. Di sisi lain ego sebagai orang tua yang anaknya tidak lulus SMP selalu menghantui. Akhirnya setelah proses berpikir dan refleksi yang panjang mereka menerima, menerima dengan kesadaran penuh, dan siap membimbing Izza untuk pendidikan alternatif homeschooling.
Pada akhirnya setelah semua orang tahu bahwa Izza putus sekolah dan memilih menekuni karir menulisnya, justru banyak dukungan kepadanya. Tentu saja cacian lebih banyak ditujukan kepadanya dan keluarganya. Tetapi apalah artinya caci maki tersebut bila dibandingkan dengan kepuasan aktualisasi diri dan keyakinan bahwa mereka di jalur yang benar. Apa pula artinya serangan ketidaksetujuan dari orang yang tidak tahu dari pada dukungan para pemerhati dan praktisi pendidikan.
Ikhwal Izza menjalani homeschooling itu pada tahun 2007 lalu. Saat ini Izza menuliskan pengalamanny tentang keputusannya untuk homeschooling dan membuatnya menjadi buku yang berjudul "Dunia Tanpa Sekolah". Buku ini dibuat menjadi trilogi, read write and imagine.
Jika Anda ingin membaca bukunya bisa langsung menuju google books. Happy reading!






