Minuk, puteri sulung Kak Seto yang saat itu masih duduk di bangku salah satu SMP favorit di Jakarta tiba-tiba mogok sekolah. Ternyata masalahnya Minuk merasa tidak terima dengan nilai pelajaran Kesenian di raportnya yang hanya 4, padahal menurutnya dia cukup pandai dan menyukai pelajaran tersebut. Untuk sementara kedua orang tua Minuk mengizinkan anaknya tidak masuk sekolah.
Namun ternyata kemudian puterinya lebih memilih untuk tidak sekolah seterusnya.
Sebagai seorang ayah yang dikenal juga sebagai Bapak Anak Indonesia yang sangat concern terhadap pendidikan, tentunya Kak Seto tidak tinggal diam. Beliau mencari alternatif pendidikan yang lebih sesuai dengan si anak. Kak Seto memahami alasan anaknya tidak ingin sekolah lagi tentu bukan semata karena masalah dengan pelajaran Kesenian, tetapi lebih dalam masalahnya karena kurang sesuainya sistem pendidikan di sekolah dengan gaya belajar anaknya. Kak Seto juga memahami bahwa kurikulum pendidikan Indonesia yang terlalu berat membebani siswa, kurang mendukung kreativitas siswa, dan tidak adaptif terhadap realitas kehidupan.
Akhirnya setelah mencari referensi, Kak Seto menemukan model pendidikan alternatif, yaitu homeschooling. Puterinya menyambut baik cara belajar melalui homeschooling ini. Akhirnya Minuk memutuskan untuk keluar dari sekolahnya dan melanjutkan pendidikannya melalui jalur homeschooling. Dia lebih menikmati proses belajarnya tanpa ada perasaan tertekan dan bosan seperti waktu bersekolah dulu. Dan ternyata 2 orang adiknya mengikuti jejaknya, mereka memilih menempuh pendidikan lewat homeschooling daripada bersekolah.
Atas dasar kecintaannya kepada anak-anak dan perhatiannya yang besar terhadap pendidikan anak, Kak Seto saat ini aktif memperjuangkan eksistensi pendidikan alternatif homeschooling melalui lembaga ASAH PENA (Asosiasi Sekolah Rumah dan Pendidikan Alternatif). ASAH PENA melakukan lobi-lobi dengan pemerintah (dalam hal ini Diknas) dalam rangka mempermudah pelaksanaan homeschooling, terutama dalam urusan legalitas dan akreditasi (baca:ujian) bagi para homeschooler.
Namun ternyata kemudian puterinya lebih memilih untuk tidak sekolah seterusnya.
Sebagai seorang ayah yang dikenal juga sebagai Bapak Anak Indonesia yang sangat concern terhadap pendidikan, tentunya Kak Seto tidak tinggal diam. Beliau mencari alternatif pendidikan yang lebih sesuai dengan si anak. Kak Seto memahami alasan anaknya tidak ingin sekolah lagi tentu bukan semata karena masalah dengan pelajaran Kesenian, tetapi lebih dalam masalahnya karena kurang sesuainya sistem pendidikan di sekolah dengan gaya belajar anaknya. Kak Seto juga memahami bahwa kurikulum pendidikan Indonesia yang terlalu berat membebani siswa, kurang mendukung kreativitas siswa, dan tidak adaptif terhadap realitas kehidupan.
Akhirnya setelah mencari referensi, Kak Seto menemukan model pendidikan alternatif, yaitu homeschooling. Puterinya menyambut baik cara belajar melalui homeschooling ini. Akhirnya Minuk memutuskan untuk keluar dari sekolahnya dan melanjutkan pendidikannya melalui jalur homeschooling. Dia lebih menikmati proses belajarnya tanpa ada perasaan tertekan dan bosan seperti waktu bersekolah dulu. Dan ternyata 2 orang adiknya mengikuti jejaknya, mereka memilih menempuh pendidikan lewat homeschooling daripada bersekolah.
Atas dasar kecintaannya kepada anak-anak dan perhatiannya yang besar terhadap pendidikan anak, Kak Seto saat ini aktif memperjuangkan eksistensi pendidikan alternatif homeschooling melalui lembaga ASAH PENA (Asosiasi Sekolah Rumah dan Pendidikan Alternatif). ASAH PENA melakukan lobi-lobi dengan pemerintah (dalam hal ini Diknas) dalam rangka mempermudah pelaksanaan homeschooling, terutama dalam urusan legalitas dan akreditasi (baca:ujian) bagi para homeschooler.






