free month

Haaii...it's..

 

Kurikulum Cinta dalam Homeschooling

Jumat, 09 Maret 2012

Habis dari RS anterin Faris kontrol. Entah kenapa pikiran ini rasanya berkecamuk, seperti sedang memikirkan sesuatu. Saya coba mengingat-ingat apa yang baru saja saya lihat yang kira-kira mempengaruhi suasana hati (ato pikiran ya). Ehm, tadi di RS saya lihat orang tua yang sakit, pake kursi roda diantarkan anaknya. Usianya sudah benar-benar sepuh, diatas 70th dan kondisinya juga sudah terlihat sakit-sakitan. Hampir setiap ke RS saya selalu mendapati pemandangan seperti itu, dan itu selalu menjadi pikiran.

Saya teringat kedua orang tua saya di desa. Apakah nanti ketika usia senja kondisinya akan seperti itu? Ibu saya sering berkata kepada saya apabila tua nanti ingin sekali saya tinggal bersamanya, menjaganya, merawatnya ketika sakit, bahkan beliau berpesan ketika meninggal keinginannya dimandikan dan diurus sama saya, anak perempuan satu-satunya. Saya yang melihat ibu  masih segar bugar dan menurut saya masih muda (belum juga pensiun), belum ingin memikirkan hal-hal semacam itu. Tapi tak urung hal-hal yang saya lihat dan amati dalam perjalanan hidup saya, seperti melihat orang-orang tua sakit di RS, embah-embah yang di usia tuanya yang seharusnya istirahat tapi masih harus bekerja (seperti bapak becak yang saya tumpangi siang ini atau simbah penjual telur yang sering lewat depan rumah), membuat saya merasa harus memikirkan bagaimana kelak saya mempersiapkan masa depan "hari tua" orang tua saya dan kami (saya dan suami) sendiri.

Menjadi tua dan sakit itu pasti sangat tidak enak. Apalagi jika kondisi sakitnya parah, raga tak mampu lagi berdaya upaya bahkan untuk mengurusi diri sendiri, apalagi jika kondisi finansial di hari tua buruk, dan apalagi jika finansial yang merawat (anak) juga tidak begitu baik. Apalah daya seorang tua yang tak bisa apa-apa, hanya bisa merepotkan saja. Ini tentu sangat sakit dirasakan, badan sakit, jiwa pun nelangsa, merana, penuh nestapa. Pernah ada kisah mertua teman ibu saya bunuh diri karena depresi menderita sakit bertahun-tahun dan tak kunjung sembuh, dan mungkin ada faktor kurang dirawat psikhisnya, sehingga perasaan tidak berguna plus rasa bersalah merepotkan anak-anaknya begitu besar. Bagi orang tua jika mengalami kondisi seperti itu jika tanpa dukungan dan kasih sayang dari keluarga tentu sangat berat dirasa. Apalagi ada juga orang tua yang sudah sakit-sakitan malah sering mendapat perlakuan kasar dari anaknya.

Orang tua yang kehidupannya baik dan bahagia di hari tuanya juga banyak. Mereka dirawat dengan penuh kasih sayang oleh anaknya, dikerumuni cucu-cucu yang menyenangkan dan senantiasa jadi penghiburnya. Nasehatnya didengar, cerita-ceritanya (masih bisa) menginspirasi meskipun sudah beda generasi, alangkah bahagianya. 

Bagaimana hari tua kita nanti???? Menjalani hidup di hari ini saja, kita merasa sudah sulit. Ternyata masih ada level hidup yang lebih sulit dari hari ini yang perlu lebih kita pikirkan, yaitu kehidupan kita di hari tua. Bagaimana menjalani hari tua nanti? Apa bekal yang musti kita persiapkan untuk meraih hari tua yang bahagia? Uangkah? Anak-anak?

THINK! THINK! THINK!.................
Jawaban saya adalah CINTA. Ya cinta dari anak dan keluarga. Apa pun kondisi kita di hari tua, atau bagaimanapun kondisi anak kita kelak saat mereka bertanggung jawab atas kita, jika kita dan mereka keluarga kita mempunyai ikatan cinta yang kuat, seberat apa pun ujian pasti bisa dihadapi.

Akhirnya saya mulai bisa mengurai apa yang menggelisahkan hati saya dan mengaduk-aduk pikiran dan perasaan saya siang ini. Saya telah menemukan rumusan berharga dari pengalaman-pengalaman saya mengamati orang-orang tua. Selama ini (seingat saya sejak masih kecil), saya selalu merasakan hal berbeda saat melihat orang tua. Otak saya merekam dan menyimpannya sebagai sebuah memori berharga yang tidak mudah untuk dilupakan, membentuk mozaik yang harus ditemukan maknanya.

Dan hari ini saya telah merangkainya, dan menemukan sebuah formula yang namanya CINTA. Terasa tidak nyambung mungkin bagi Anda. Saya hanya ingin mengungkapkannya, tapi memang agak sulit menjelaskannya kenapa sampai dari hal-hal yang telah saya ceritakan tersebut saya sangat meyakini tentang kekuatan cinta. Simak saja, mungkin akhirnya Anda akan mengerti. Tapi kalo tidak bisa memahaminya,,,,,i'm so sorry ya....

Cinta adalah hal yang sangat berharga dalam hidup. Jika Anda seorang ibu pasti tau dan benar-benar merasakannya. Bagi seorang ibu cinta terbesarnya mungkin kepada anak (meskipun seharusnya cinta terbesar itu kepada Alloh). Anak bahkan bisa jadi fitnah (ujian) buat para ibu. Segala sesuatu demi anak. Kadang seorang ibu kasar atau bahkan berbuat jahat pada anak, tapi tetap saja tidak bisa berpisah dari anak. Anak adalah segalanya. Tapi anak juga bisa jadi bumerang bagi orang tua. Anak bisa menjadi durhaka karena orang tua salah mendidiknya. Kedurhakaan seorang anak seolah bisa menghapus jejak pertalian darah orang tua-anak. Dan musnahlah segala rasa cinta yang dulu pernah terbangun di masa-masa awal kehidupan sang anak.

Hidup itu keras. Tak adanya cinta dalam hubungan  antar manusia membuat kerasnya hidup semakin terasa. Karena itu memiliki cinta dalam hidup ini merupakan suatu keharusan. Cinta adalah modal besar yang harus dimiliki agar seseorang bisa bahagia dalam hidupnya. Cinta memungkinkan seorang anak manusia mampu melakukan hal apa pun, sebesar apa pun rintangannya. Dan cinta adalah sesuatu yang harus dipelajari dan harus dikembangkan. Bagi saya cinta itu adalah sebuah skill, jadi lebih tepat kalo disebut "mencintai". Mencintai itu adalah sebuah skill, sedangkan "dicintai" adalah award dari usaha kita dalam mencintai. 

Karena "love is a skill", maka untuk memperoleh skill itu harus banyak belajar dan berlatih. Cinta yang saya bicarakan di sini adalah cinta dalam konteks yang luas, yang meliputi cinta pada Alloh SWT Sang Pencipta kita, cinta pada Rosululloh panutan kita, cinta pada orang tua, cinta kepada pasangan, cinta pada anak, cinta pada keluarga, cinta pada sesama manusia, dan cinta pada sesama makhluk. Indikator seseorang yang memiliki "love skill" adalah kesediaannya berkorban atau mengikuti yang dicintainya itu. Contohnya adalah jika kita mengaku mencintai Alloh dan rosulNya, maka konsekuensinya adalah harus mengikuti semua perintahNya dan menjauhi semua laranganNya. Jika kita mencintai orang tua maka harus sedia berkorban untuknya, begitu juga bila kita mencintai anak atau pun orang lain.  Dan semua itu tentu saja dilakukan dengan tulus dan tanpa pamrih.

Jadi, apakah "love skill" itu mudah? Menurut saya tidak. Untuk bisa tunduk patuh atau berkorban untuk seseorang, kita harus punya alasan yang tepat. Misal kenapa kita harus cinta Alloh? Karena Dialah pencipta kita. Kenapa kita harus cinta kepada orang tua? Karena merekalah yang merawat kita sejak kecil.

Lalu bagaimana cara mengembangkan "love skill". Seperti yang telah saya sebutkan di atas, caranya dengan belajar dan berlatih (learn and practice). Cara mengembangkan "love skill" kepada Alloh adalah dengan berusaha terus menerus mempelajari tentang siapakah Alloh dan segala ilmu yang telah diajarkan melalui rosulNya (qur'an dan hadis) dan mentadaburi ciptaanNya. Kemudian practice dengan melakukan amalan-amalan yang disyariatkanNya. Adapun  cara mengembangkan "love skill" kepada orang tua adalah dengan mempelajari dengan cara mengamati apa saja yang selalu orang tua kita perbuat untuk kita, dan practice dengan berlatih melakukan pekerjaan-pekerjaan yang telah biasa orang tua lakukan untuk kita. Ternyata yang telah orang tua kita lakukan untuk kita sangat banyak dan tidak ringan kan. Wujud practice untuk memiliki "love skill" pada orang tua yang yang terasa besar manfaatnya untuk kita adalah dengan menjadi orang tua. Saat kita sudah memiliki anak dan benar-benar berperan sebagai orang tua, saat itulah secara otomatis "love skill" kita kepada orang tua terupgrade. Kita jadi benar-benar tau beratnya orang tau kita dulu merawat dan mengasuh kita, dan tiba-tiba rasa kesal kita dulu yang mungkin masih tersisa karena orang tua sering marah menjadi sirna.

Memiliki "love skill" membutuhkan usaha keras dan proses yang panjang. Karena itu alangkah baiknya jika sejak dini kita telah mengenalkan skill ini kepada anak-anak kita. Mungkin ini hanya masalah sudut pandang. Mencintai Alloh, orang tua, dan sesama adalah suatu keharusan yang sudah diajarkan sejak dulu. Namun menumbuhkan cinta sebagai suatu skill dan kebutuhan saya rasa itu penting. Ya cinta itu sebenarnya adalah sebuah kebutuhan, mengingat implikasi dari "mencintai" adalah "dicintai". Siapa yang tidak butuh dicintai? Semua orang butuh dicintai dan bukan sekedar ingin dicintai.

Alangkah besar manfaatnya jika sejak dini kita menanamkan akan kebutuhan cinta dan keharusan memiliki "love skill" kepada anak. Love skill akan membawa kebahagiaan, love skill adalah kebutuhan ruhani kita. Anak kita ajarkan untuk mencintai Alloh karena bila kita mencintai Alloh (dengan melaksanakan syariatNya) maka Alloh akan mencintai kita. Kalau Alloh mencintai kita maka Dia akan mengabulkan do'a kita, akan selalu menjaga kita, dan Alloh telah menyediakan surga buat kita. Anak kita ajarkan untuk mencintai orang tua karena itu disyariatkan Alloh dan jika kita mencintai orang tua (patuh dan mau membantuny) maka orang tua juga akan mencintainya, keinginannya akan dipenuhi. Mengajarkan anak untuk mencintai sesama juga bisa kita arahkan bahwa itu semua juga dicintai Alloh. Dengan demikian akan memupuk cinta anak kepada Alloh.

Tentang konsep "love skill" ini, yang saya menemukannya dari perenungan dari pengamatan terhadap hari tua seseorang, juga sangat berpengaruh terhadap saya. Ini mendorong saya untuk menjadi seorang ibu yang lebih baik. Lebih baik dalam hal merawat dan mengasuh anak, dan dalam memberikan pendidikan yang terbaik bagi mereka. Karena jejak usaha kita sebagai orang tua hari ini, dan jejak cinta kita kepada anak-anak kita akan membekas di sanubari mereka hingga dewasa kelak, saat mereka sudah mampu mengekstrak arti dari kehidupan yang telah dilaluinya bersama kita. Dan apa yang kita berikan hari ini (dengan izin Alloh) akan memberikan kontribusi pada kebahagiaan kita di hari tua kita nanti.

Memilih jalur pendidikan alternatif homeschooling sangat cocok untuk mengembangkan "love skill" ini. Perasaan cinta lekat dalam keluarga homeschooling, karena pada dasarnya siapapun yang memilih homeschooling pasti berawal dari cinta pada anak dan ingin memberikan yang terbaik bagi mereka. Karena itu akan lebih mudah mengajarkan, menumbuhkan dan memupuk "love skill" ini. Dan kelak dalam perkembangannya, saat anak-anak berusia remaja, akan ada tantangan baru bagi tiap keluarga, yaitu saat anak-anak menemukan jenis "cinta baru"alias cinta pada lawan jenis. Apabila sejak kecil sudah ditumbuhkan tentang prioritas cinta, akan lebih mudah mengarahkan anak untuk memahami fenomena cinta anak muda dan mensikapinya dengan bijak sesuai yang telah disyariatkan oleh Sang Maha Mencintai, Insya Alloh.

Menjadikan "love skill" sebagai kurikulum homeschooling, kenapa tidak? Saya akan memikirkannya bagaimana aplikasinya nanti dalam sekolah rumah kami. Apakah perlu dijabarkan bagaimana mengemasnya dalam bab khusus atau mengintegrasikannya dengan pelajaran? Saya rasa sah-sah saja. Untuk saat ini cukup menganggap konsep ini ada dan cukup penting untuk selalu dikemukakan. Selanjutnya kita bisa mengintegrasikannya dalam setiap topik bahasan kita sehari-hari, dalam pembicaraan maupun ketika mempelajari topik tertentu dari buku. Yang penting anak (dan kita sendiri tentunya) lebih aware untuk mengembangkan kemampuan mencintainya.

Bagi saya pribadi, dengan ini saya membuat resolusi untuk lebih baik dalam menjalin hubungan cinta dengan anak dan keluarga. Harus lebih sabar, telaten, lembut, ikhlas berkorban, pantang mengeluh. Itu tidak mudah, tapi harus diupayakan. Yaa Alloh Robbul Izzati, mudahkanlah langkah hamba ini........






Temukan Inspirasi Yg Anda Suka:

Subscribe via email

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner