free month

Haaii...it's..

 

Multipple Intellegence

Minggu, 12 Februari 2012



Haruskah Habibie, Bill Gates, Einstein belajar not balok.....
Haruskah WS Rendra, Leonardo Da Vinci, Michael Jackson belajar matematika integral....

Bagaimana menurut Anda???
Bagi saya pertanyaan tersebut sama dengan kita bertanya
       Haruskah katak belajar terbang....
       Haruskah burung belajar menggali lubang....
       Haruskah kucing belajar berenang.......
Dan tentu saja kita akan lebih mudah menjawabnya, karena jawabannya so pasti 
                                   TIDAK
Mengapa harus memaksakan seseorang mempelajari sesuatu yang kita tau mereka akan sulit melakukannya. Ya tentu saja kita bisa mafhum bahwa Pak Habibie, Bill Gates, dan Einstein tidak akan bisa pinter dalam urusan seni musik, seni musik yang mendetail. Menyukai musik barangkali iya, tapi mempelajarinya hingga pada level menghafal notasi musik itu lain lagi.
Begitu juga dengan orang yang mempunyai tipe otak seperti WS Rendra sang penyair atau Leonardo Da Vinci sang seniman. Apa gunanya coba mereka mempelajari matematika rumit seperti integral atau koordinat kartesius dan hitungan-hitungan super rumit lain seperti yang diajarkan di sekolah.

Setiap orang itu unik, tidak bisa disamakan dalam semua hal. Apalagi dalam hal kemampuan otak, jelas-jelas sangat berbeda. Jadi sangatlah wajar bila tingkat kemampuan dan kecepatannya dalam mempelajari sesuatu berbeda pula. Kecerdasan setiap orang tidak sama. Dalam hal ini tipe kecerdasannyalah yang berbeda.

Howard Gardner mengemukakan teori Multiple Intelligence. Dia menyebutkan ada 9 macam tipe kecerdasan, yaitu:
1. Linguistik Inteeligence
2. Logical Mathematical Inteeligence
3. Visual Spatial Inteeligence
4. Bodily Kinesthetic Inteeligence
5. Musical Inteeligence
6. Interpersonal Inteeligence
7. Intrapersonal Inteeligence
8. Naturalis Intelligence
9. Existance Inteeligence

Setiap orang berpotensi memiliki kesemua jenis kecerdasan tersebut, tetapi hanya ada beberapa tipe kecerdasanlah yang menonjol/dominan pada setiap orang. Nah bisa kita analisa sekarang kalo Pak Habibie dan kawan-kawan unggul dalam Logical Mathematical Inteeligence. Sementara para penyair seperti Rendra kecerdasan yang dominan adalah Linguistic Inteeligence. 

Bagaimana dengan anak kita????
Tugas kita lah sebagai orang tua untuk mengetahui tipe kecerdasan mereka. Kecerdasan seseorang bisa dideteksi dengan mengamati apa saja hal-hal yang diminati atau bakat yang tampak dari kegiatannya sehari-hari. Pengetahuan tentang tipe intelegensi anak adalah modal yang sangat berharga untuk merencanakan model pembelajaran yang tepat untuk mereka. Kita sebagai orang tua bisa memberikan bimbingan tentang apa saja yang sebaiknya dipelajari untuk mengembangkan kecerdasannya, dan apa saja yang tidak perlu dipelajari secara mendetail. Apa yang dipelajari hari ini adalah investasi untuk masa depannya. Dan tentu saja kita tidak perlu mendorong anak untuk berinvestasi pada ilmu yang tidak sesuai dengan intelegensinya, apalagi bila anak juga tidak menyukai. Itu namanya buang-buang waktu, tenaga, pikiran dan tentu saja menguras emosi.

Tapi bagaimana realitanya.....
Sayang seribu sayang kita tidak sepenuhnya bisa mengontrol dan mengarahkan anak kita sendiri tentang apa yang sebaiknya dipelajarinya dan apa yang sebaiknya tidak. Itu tidak lain karena sebagian besar kita menyerahkan sepenuhnya pendidikan anak kita pada sekolah. 
Sekolah dirancang untuk mendidik anak secara masal. Jadi tidak ada program untuk mendidik anak secara spesifik berdasarkan minat, bakat dan tipe intelegensinya. Setiap anak di sekolah harus belajar matematika, bahasa, kesenian, keterampilan, olahraga, dll dalam porsi yang sama. Yap begitulah sistem pendidikan kita dan kebanyakan di seluruh dunia (jadi ga perlu minder :) ). Dan sebagai orang tua tentu saja nggak bisa seenaknya protes tanpa memberikan solusi. Karena protes berarti harus memikirkan dan memperjuangkan perbaikan pendidikan nggak cuma di sekolah tempat anaknya bersekolah tetapi perbaikan di seluruh sistem pendidikan indonesia. Sanggupkah??? Tidak, tentu saja.

Dan akhirnya kembali takluk pada pendidikan masal, seperti cerita Gardner tentang sekolah di hutan.
" semua hewan mulai dari gajah, kuda, harimau, buaya, singa, kelinci, burung, ulat, monyet, dan penghuni rimba lainnya belajar bersama di sekolah hutan. Dan karena sang raja rimba bingung pelajaran apa yang sebaiknya diberikan, maka berdasarkan musyawarah diputuskan untuk mengajarkan semua jenis keterampilan yang diperlukan untuk bisa survive in the jungle. Akhirnya semua hewan belajar cara berlari, menangkap mangsa, menggali lubang, bersembunyi dari musuh, terbang, dll. Semua hewan senang karena bisa belajar bersama. Sampai kemudian muncullah masalah. Si kancil gagal dalam pelajaran terbang dan berenang, si burung gagal dalam pelajaran menggali dan berenang. Itu cuma contohnya. Bagaimana hewan lain? Semua hewan mengalami kegagalan yang sangat-sangat signifikan pada pelajaran yang tidak sesuai dengan bakat alaminyadan sukses pada pelajaran yang sesuai dengan bakat alaminya. Begitulah kisahnya, hingga akhirnya para orang tua binatang yang sadar akan kurikulum sekolah hutan yang tidak cocok dengan bakat dan keunikan anaknya memilih untuk mengambil anaknya dari sekolah itu dan mendidiknya sendiri hingga anaknya bisa cari makan sendiri dan bisa bertahan dari ganasnya kehidupan hutan dengan cara mereka sendiri, cara yang berbeda dari keluarga binatang lain. "










Temukan Inspirasi Yg Anda Suka:

Subscribe via email

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner